Friday, April 10, 2009

Tentang Dia

Dia.
Ya dia itu orang na.
Nama na Charles Sebastian.
Anak dari grade 12 di sekolahku.
Tahun ini, dia bakalan tamat dan berencana melanjutkan kuliah na ke Swiss.
Yang aku dger dari temen na sec, dia mau ngambil Hospitality gitu.
Emank setau gue, Swiss itu cocok banget buat orang yang menaruh minat besar pada dunia perhotelan.
Tapi, Swiss itu dimana ya??
Duc....jauh ga??
Kalo dia ke Swiss, gue ga bisa ketemu dia lagi dunk.
Gimana sec??
Padahal hari-hari sekolah na tinggal seminggu lagi, tapi gue belom sempat ngucapin apa-apa.
Gimana ya??

Ahhhh...pusing...
Mikirin na ntal aja dee.
Sekarang, gw mau cerita dulu.
Cerita Tentang Dia.
Cocok kan??
Dia tuc ya Charles Sebastian, masa loe pada uda lupa??
Baru aja gw sebutin tadi.
Orang na suka maen futsal.
Sehari tuc, wuiihh.....bisa 3-4 jam gitu maen ama temen sekelas na.
Gue suka liet dia pas mengoper bola.
Rasa na keren aja.
Hmmphh....terus dia itu juga punya hobi renang.
Tiep minggu pagi, pasti dee dia pergi renang sama adik na.
So, bisa kalian bayangin kan??
Gimana atletis tubuh na??
Waktu gue bayangin aja, gue ampe ngiler.  Lols....

Dia juga suka banget ngoleksi komik, kayak naruto, detektif conan.
Childish ya kedengaran na??
Tadi waktu loe-loe pada ngeliatin dia waktu baca komik, pasti dee
pada langsung jatuh hati, secara gaya na cool banget.
Terus, dia paling suka minum cappucino saat baca komik.
Apa hubungan na ya??
Mungkin bier mata na ga merem, melek terus kali.

Di sekolah, dia termasuk murid top ten.
Maksud na slalu dapat rangking 10 besar gitu.
Terus, dia duduk di samping Dean.
Dan kalo uda pelajaran Fisika, behhh...
Penyakit tidur na uda kumat dee.
Jadi tiep kali pelajharan Fisika, uda bisa ditebak, dia dihukum di depan kelas karna ketiduran.
Tapi, hasil na dia ga pernah malu tuc.  
Malah sambil dihukum, dia malah asik tebar pesona gitu ma cewek-cewek di kelas na.

Biasa sehabis pulang sekolah, dia suka mampir dulu ke Gramedia, cek komik baru.
habis tuc pulang dee.
Tapi sore na lanjut maen futsal.

The most important nec, dia tuc masih jomblo alias single.
Waktu ditanya temen na kenapa ga mau pacaran??
Ngaku na sec pacaran mah ribet lah.. terikat lah....
Dia masi pengen sendirian dan have fun.

Kalian pasti pada b'tanya-tanya kok bisa ya gue tau banyak tentang dia??
Ya iyalah, secara gue suka pada na.
Gue sering merhatiin dia di kelas, karna kelas kita berseberangan.
Gue suka ngikutin dia, karna pengen tau dia lagi ngapaen.
Pasti kalian mikir kok gue psikopat banget jadi cewek.
Gue tegasin ya.
Gue bukan psikopat, cuma na gue pengen tau aja dia lagi ngapaen.
Tapi.
Kalo kalian nanya apa dia kenel gue??
Jawaban na enggak sama skali.

Bingung??
Ya iyalah, secara gue juga bingung.
Kok bisa ya gue ampe segitu terobsesi na pada dia.
Padahal dia cuma pernah sekali  menggendong gue ke ruang istirahat karna kepala gue yang terantuk bola basket lemparan teman na.
Sejak itu, gue langsung suka ma dia.
Jadi, semua na cuma cerita tentang dia.
Ga ada cerita tentang aku dan dia.
Karna aku terlalu bodoh.
Aku terlalu malu.
Hanya untuk berkenalan dengan dia.
Hanya untuk mengungkapkan perasaanku ini.

Wednesday, April 8, 2009

Cerita di Waktu Hujan

Seperti biasa, kuhabiskan waktu ku di cafe yang sama, sepulang dari kantor.
Ku duduk di sudut cafe, meja na menghadap jendela dan ini merupakan tempat favoriteku.
Dan di balik jendela cafe ini, ku duduk dan termenung, memikirkan apa yang akan kulakukan selanjut na.
Tik....tik.....
Dan hujan pun turun.
Kuawasi hujan yang turun lebat.
"Hujan lagi, hujan lagi.  Gimana dunia ga tenggelam??" dumbelku dalam hati.
Karna memang pada dasar na, aku tuc ga gitu suka yang sama yang nama na hujan.
Ku keluarkan laptop dr dalam tas, turn on dan mulai ngeblog.
Menulis apa yang seharian ini kukerjakan dan bagiku setiap hari itu sama aja.  Sama membosankan.  Aktivitas yang kulalui juga itu2 aja.
Monoton.  Bikin hidup bosen.
Kutahan daguku dengan tangan kiriku, sambil mendengar lagu This is Me-Utada Hikaru lewat laptopku, kuperhatikan lagi jalanan yang mulai sepi.
Semua orang sibuk dengan hujan yang turun.
Ada yang menepikan kereta.  Ada yang sibuk membuka payung.  Ada juga yang sibuk bertedu.
Lalu, kuedarkan pandanganku ke seluruh cafe.
Hmmpphhh....
Sumpek.
Cafe na sudah full terisi dengan orang2 yang berusaha menghabiskan waktu mereka selagi hujan ini terus turun.
"Apa yang harus kulakukan sekarang??  Blogging??  Bosen rasa na.  Pulang?? Lebih bosen lage." bisikku pada diriku sendiri
Akhir na, kuteruskan saja memandangi hujan yang turun itu lewat jendela kaca yang uda mulai burem karna terciprat rintik2 hujan yang deras itu.

15 menit kemudian, seseorang menepuk pundakku.
"Ya??" balasku
"Miss, ada orang yang duduk disini?" tanya pemuda yang keliatan na lebih tua 1-2 taon dari umurku, 22 taon.
"Ga ada."
"Bole saya duduk??  Soal na, meja2 yang lain sudah pada full."
"Silakan."
Kulepaskan earphone dari telingaku dan menatap pemuda itu sejenak.
Dia basah.  Bahkan sangat basah sekali.
Tak tega rasa na hatiku ini.
Lalu, kuambil sapu tangan dari dalam tasku dan memberikan na.
"Pakelah.  Kulihat, kau sudah basah kuyup."
"Thankq." seru na sambil melemparkan senyuman na yang ramah

Sejenak, kami berdua sama2 terdiam, begitu ada pelayan yang lewat, dia pun memesan Hot Chocolate dua.
"Punyaku masih ada." seruku dengan heran saat dia memesan secangkir untukku juga.
"Itu sudah dingin.  Minumlah yang hangat, baru tidak masuk angin."
"Terima kasih, Sir" rasa bahagia karna ada yang memperhatikanku mulai membahana di dalam hati ini.
"Perkenalkan, namaku Sergio."
"Saya Chloe."
"Sedang sibuk??  Mengerjakan tugas kantor?"
"Enggak kok, cm browsing, blogging.  Biasa."

Begitu hot chocolate na dianter oleh pelayan cafe na.  Kami pun sama2 meneguk na dan mulai terlibat percakapan yang santai sekedar pekerjaan kami, latar belakang kami.
Dia orang yang enak diajak bicara.  Ramah.  Perhatian.  Smart.
Aku suka padanya.
Bukan suka yang kayak love at first sight.
Cuma, suka bicara dengan dia.
Dan ingin menghabiskan waktu yang lebih lama dalam percakapan ini.
Terlibat dalam percakapan ini, membuatku lupa akan rasa bosenku, rasa penat di kantor seharian.
Aku bahagia, dan untuk beberapa bulan terakhir ini.
Boleh dibilang, inilah saat-saat terbahagiaku.
Dengan na, aku tertawa lepas.  Saling bertukar pikir.

Sejam kemudian.
Dia meneguk hot chocolate na sampai habis dan memakai jas na yang uda lumayan kering.
"Sudah mau cabut??"
"Iya.  Hujan na sudah reda.  Aku harus ke bengkel mengambil mobilku."
"Mau kuantar??"
"Tidak perlu, bengkel na deket sini.  Aku jalan kaki saja."
"Ooh..." jelas terdengar nada kecewa kali ini.
"Seneng berkenalan denganmu."
"Aku juga"
"So, see u next time"
"Sure."
"Ini cafe favorite-ku.  Kalo kamu perlu temen bicara sehabis pulang dr kantor, kau bisa menemukanku disini.  Di meja yang sama."  tambahku lagi dengan muka yang agak kemerah2an karna malu.
"Tentu.  Kita pasti akan berjumpa lagi dan menghabiskan waktu dalam percakapan selanjut na."
balas na seraya tersenyum nakal kearahku.

Kutatap punggung na cukup lama saat dia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar cafe itu.
Ternyata hari ini aku telah menemukan sesuatu yang menarik dalam hidupku.
Aku takkan kebosenan lagi melewati hari-hariku.
"dan untuk besok bahkan seterus na.  Kau akan bisa menemukanku disini.  Disudut ini, Sergio." seruku sambil menatap keluar jendela.
Jalanan masih basah.
Tapi, orang-orang kembali pada aktivitas mereka masing2.
Jalanan kembali ramai.


NB : Inspirasi menulis cerita ini, tiba2 saja muncul saat gw menatap jalan yang diguyuri hujan.

Thursday, February 12, 2009

Gadis Hujanku

Aku mengerang kesakitan.  Ketendangkan kedua kakiku dengan sekuat tenaga ke segala arah.  Tadinya hanya dua orang yang memegang kedua tangannya.  Sekarang, kulihat dua orang itu bertambah menjadi empat orang.

“Lepaskan aku.”  Aku meronta dengan sekuat tenaga

Aku tidak mengerti.  Mengapa mereka memegangku dengan kuat.  Bahkan salah seorang dari mereka sedang memegang sebuah benda yang bentuknya kecil dan mengeluarkan beberapa tetes cairan diujungnya yang tajam.
Saat benda kecil itu menembus ke dalam kulitku, aku mengerang.  Sesekali, aku berontak, ingin melepaskan diri.

“Lepaskan aku.” Aku menjerit.

Tapi, mereka menganggapku seolah aku ini tidak ada.

“Apa yang sedang kalian lakukan padaku?  Lepaskan aku.”  Aku kembali menjerit dengan suara yang lebih keras.

Namun, tidak ada yang bergeming sedikitpun mendengar suara jeritanku.  Seakan, mereka sudah terbiasa.

“Masukkan dia ke dalam kamarnya.  Ingat!  Kalian harus lebih sering mengawasinya.  Jangan sampai dia kabur lagi.”

Samar-samar, kudengar orang yang sedang memegang benda kecil-yang membuatku kesakitan setengah mampus, berpesan pada semua orang yang berada di ruangan itu.

Lalu, aku tidak ingat lagi.  Kepalaku terasa berat.  Kedua kelopak matanya tidak sanggup kubuka.   Aku tertidur.  Untuk jangka waktu yang cukup lama.


Aku bangun.  Hal pertama yang kulihat.  Putih.  Seluruh ruangan berwarna putih.  Tempat apa ini?  Mengapa aku bisa berada disini?   Sejak kapan aku dikurung di dalam ruangan sempit ini?  Dan sejak kapan mereka mulai menyiksaku dengan benda kecil itu?

Sial!!.  Aku tidak bisa mengingatnya.  Setiap kali aku mencari jawabannya, hanya sakit kepala dasyat yang menghampiriku.  Dan saat hal itu terjadi,  mereka-orang-orang yang juga berpakaian putih secara keseluruhan  akan kembali memegangku dan kejadian tadi kembali berulang.

Sia-sia.   Mencari jawaban akan pertanyaanku hanya akan membuang waktuku.  Kuputuskan untuk tidak berusaha lagi.
Dengan tenaga yang masih tersisa, aku berusaha membangunkan diriku yang sedang berbaring.  Badanku terasa lemas.  Untuk menegakkan badan, butuh waktu yang cukup lama.

 Tik….Tik….Tik…..

Dari luar jendela yang tertutup jerali besi, aku bisa mendengar suara hujan yang mulai membasahi tanah.  Akhirnya hujan datang juga.  Sudah hampir sebulan ini aku merindukan datangnya hujan.
Karna saat hujan datang, dia juga akan datang.

Gadis hujan.  Aku menyebutnya begitu.  Dia hanya akan muncul disaat matahari menghilang entah kemana berganti dengan segumpalan awan hitam yang memulai kegiatan menangisnya.

Ahhhh.  Aku rindu padanya.  Terakhir kali aku bertemu dengannya saat aku masih belum berada di tempat ini.  Saat itu aku baru saja kehilangan kedua orang tuaku karna………

Karna…….Aku tidak bisa mengingatnya.  Aku hanya tahu bahwa mereka tergeletak tidak bergerak di ruang tamu.  Cairan pekat bewarna merah berceceran dimana-mana.  Banyak orang berkata bahwa pemandangan itu sangat mengerikan, tapi tidak bagiku.

Aku menyukai cairan bewarna merah pekat itu.  Keliatan sangat indah dimataku.  Lalu, beberapa orang berseragam datang dan mengikat tanganku dengan besi bulat yang bolong ditengahnya.   Aku dibawa ke sebuah tempat yang dipenuhi puluhan orang berseragam, tapi aku tetap tidak mengerti mengapa mereka kelihatan sangat emosian saat berbicara denganku.

Setiap pertanyaan yang mereka lontarkan, aku hanya bisa menjawab “tidak tahu”, karna aku memang tidak tahu apa yang sudah terjadi.

Disaat aku dibawa keluar dari tempat itu, banyak orang yang berteriak padaku.  Bahkan ada beberapa orang yang melemparku dengan benda-benda keras.  Cahaya terang serta para orang yagn sibuk bertanya segera mengerumuniku.  Tapi. Aku hanya bisa tersenyum dan melambai pa da mereka.

Kini, aku sudah duduk bersampingan dengan gadis hujanku.  Aku bercerita banyak tentang diriku selama berada disini.  Sejak dulu, aku tidak mempunyai teman.  Kata mereka aku aneh.  Tapi, aku tidak mengerti apa yang aneh dariku.  Aku memiliki dua mata, satu hidung, satu mulut, rambut dan segalanya.  Tidak ada yang aneh padaku.

Namun, mereka selalu menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kuartikan.  Kadang aku membenci tatapan itu.  Dan mulai saat itu, aku berkenalan dengan gadis hujan.  Setiap kali aku sedang sedih, gembira ataupun ada masalah, aku akan bercerita padanya.  Dia akan sabar menemaniku dan mendengarkan ceritaku.

Hanya satu hal yang tidak kusuka darinya.  Dia suka sekali menghilang bersamaan dengan berhentinya hujan.  Padahal ada kalanya aku belum siap bercerita.

“Apa kau betah disini?” dia bertanya padaku.

Udara mulai terasa dingin dan hujan yang turun semakin lama semakin deras.  Aku memeluk erat diriku.  Aku menggigil kedinginan dengan pakaian putih tipis yang melekat di tubuhku.

“AKu benci tempat ini.  Bisakah kau membawaku keluar dari sini?”

“Saatnya akan tiba.  Kau harus sedikit bersabar.”

Aku tersenyum padanya.  Jika dia sudah berjanji, dia pasti  akan menepatinya.  Seperti waktu dulu, saat aku mengatakan bahwa aku tidak menyukai kedua orang tuaku.  Mereka suka mengurungku di kamar dan tidak membiarkanku keluar rumah.  Dan, hasilnya sekarang aku bebas.  Aku tidak perlu bertemu dengan mereka lagi.

“Tapi, kapan?  Aku tidak suka tempat ini.  Tidak bisakah kau membawaku bersamamu?”

Dia menggeleng pelan, lalu kembali tersenyum padaku.

“Kau harus bersabar.  Aku pasti akan mengeluarkanmu dari sini.”

Dari kejauhan, sekelompok orang berpakaian putih berlari kearahku dan gadis hujan.  Aku hanya bisa menghela nafas berat.

“Mereka sudah datang.  Pasti aku akan kembali dibawa ke ruangan sempit itu dan disiksa dengan benda kecil itu lagi.  Aku membenci mereka.  Tidak mudah bagiku untuk keluar dari ruangan itu.”

Aku merasakan ada tepukan ringan dibahu kananku.

“Kembalilah dulu.  Aku akan menemuimu di waktu hujan berikutnya.”

Saat aku membalikkan kepalaku untuk memandangnya, dia sudah tidak berada disana.  Dia menghilang entah kemana, seperti biasanya.

Kubiarkan sekelompok orang berpakaian putih itu memegang kedua tanganku dengan erat, menariknya ke belakang dan mengikatnya dengan kain bewarna putih.

“Jangan biarkan dia lolos lagi.” Kata salah seorang dari mereka

“Baik, Pak.” Yang lain menjawab serempak

“Dia pasien jiwa yang sangat berbahaya.  Kalian harus berhati-hati dalam menghadapinya.  Hindarkan semua benda tajam dari pandangannya.  Sudah banyak orang yang dibunuhnya.  Kedua orang tuanya, seorang polisi yang menginterogasi dirinya dan seorang pegawas kamar yang baru saja dibunuhnya untuk bisa keluar dari kamar.”

Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka katakan.  Tapi mereka kembali menatapku dengan tatapan itu.  Yang bisa kulakukan hanya tersenyum.

Gadis hujanku akan segera menjemputku.