Showing posts with label stories. Show all posts
Showing posts with label stories. Show all posts

Tuesday, December 27, 2011

Musim Dingin


Hembusan angin sore membuyarkan lamunanku.  Menguap sudah mimpi-mimpi di alam kenyataan.  Memaparkanku pada kesakitan tiada akhir.  Suatu kebenaran yang harus kuakui. 
Bahwa kau tidak pernah menganggap aku ada.

Bagiku, bersamamu seperti salju di musim dingin.  Kadang terasa begitu indah, membuatku tidak ingin melewatkannya.  Walaupun, aku mengerti konsekuensi untuk menikmatinya.  Bahwa dia akan membawakan kedinginan pada diri mungilku.  Rasanya tidak mungkin aku bertahan pada suhu udara di bawah minus.  Namun, nyatanya aku berusaha bertahan dan melawan. 
Hanya untuk satu alasan. 

Karna aku begitu menyukai musim dingin.  Seperti aku yang dengan bodohnya terperangkap oleh gombalan cintamu.  Mencintaimu tanpa mempedulikan perkataan orang-orang di sekitarku.  Mempertaruhkan kebahagiaan seumur hidupku bahwa kau mungkin akan berubah dan bertahan di sisiku.
Nyatanya, aku salah. 

Kau tidak pernah berubah.  Bukan karna tidak mungkin.  Namun, kau sendiri yang tidak ingin berubah.  Bagimu, ada atau tidak adanya diriku hanya ibarat hembusan angin di sore hari.  Akan berlalu saat musim berganti.  Menghilang tanpa meninggalkan jejak. 
Dan kau tidak pernah merasakan arti dari sebuah kehilangan.

Kadang, aku berkata pada diriku sendiri.  Aku pasti bisa melewati hari-hari sulit ini.  Sehari demi sehari dan hanya hasil nihil yang kudapatkan.  Kau tidak pernah menguap sedikitpun dari pemikiranmu.  Bahkan selalu hadir dalam setiap gerak langkahku.

Jika, aku memohon, apakah kau bersedia untuk mengabulkannya?
Jika aku terus melangkah, apakah kau bersedia untuk memperlambah langkahmu supaya aku dapat menyejajarkan langkah kita?

Pertanyaan demi pertanyaan bodoh selalu hadir menyusup ke dalam pikiran.  Dan kau tidak pernah sekalipun menjawab pertanyaan tersebut.  Hanya ada aku yang berusaha menenangkan jiwa sendiri.  Menemukan jawaban atas pertanyaanku, walaupun semua kebohongan belaka.
Kurasa sudah waktunya untuk melepaskanmu.  Mempertahankanmu tidak membuatku bahagia, tidak juga membuatmu tidak akan pergi.  Kau hanya bersikap seolah kau ada disana, tetapi tidak pernah ada saat kubutuhkan.
Lalu, apalah arti kehadiran semu tanpa kasih yang kuinginkan darimu?

Akhirnya aku mengerti.  Melepaskanmu mungkin jalan terbaik.  Membiarkanmu menguap bersama embun di pagi hari.  Dan aku akan mulai belajar untuk menyukai musim lainnya selain musim dingin.

Saturday, December 24, 2011

Wedding Dress


Suara dentingan bel di pintu masuk membuyarkan konsentrasi Elva.  Wanita bertubuh mungil, rambut sebahu tersebut sedang menyiapkan gaun pengantin pelanggannya.  Sebuah long dress berbentuk kembem dengan pita besar menghiasi bagian belakang.  Menjuntai dari pinggang hingga menyentuh permukaan lantai.
Gaun pengantin tersebut sudah hampir selesai pembuatannya.  Hanya tinggal dipoles sedikit jahitan renda di bagian pinggul.  Walaupun pengerjaan setiap gaun dilakukan oleh Elva sendirian dalam waktu singkat, para pelanggan selalu merasa puas dengan hasilnya.
Maka dari itu, tidak heran jika toko baju pengantin yang berada di pusat kota.  Diantara jejeran butik-butik baju ternama mendapatkan kesan tersendiri di mata para pengunjung ataupun orang-orang yang melewatinya.
Elva menyunggingkan senyuman ramah saat melihat seseorang melangkah masuk ke dalam toko yang baru dibuka satu tahun lalu.  Senyuman selalu membuatnya terlihat ramah di mata setiap pengunjung.  Dan hal tersebut bisa menjadi salah satu kunci kesuksesan toko miliknya.
Seorang wanita muda berparas manis melangkah masuk.  Sendirian tanpa ada yang menemani.  Dari arah tempat Elva berdiri, dia berkata, “Selamat datang.  Ada yang bisa saya bantu?”
Wanita muda tersebut mengangkat tangan kanannya, “Nanda.”
“Elva.” balasnya, menghentikan kesibukkan tangannya dan membalas jabatan tersebut.
“Aku mendapat rekomendasi teman bahwa kau dapat membuatkan gaun pengantin sesuai keinginan pelanggan.”
“Di toko ini, anda dapat memesan gaun pengantin yang sudah tersedia.” Elva menunjuk ke arah depan, dimana sederet panjang gaun pengantin tergantung di dalam lemari kaca bening, “Ataupun memesan gaun pengantin sesuai konsep anda.”
“Aku menginginkan sebuah gaun pengantin sederhana, tetapi dapat memancarkan kebahagiaan pemiliknya.  Sebuah gaun yang membuat setiap tamu memusatkan pandangannya padaku.” cerita Nanda mengikuti Elva ke dalam kantor.
Elva mempersilahkan Nanda duduk di atas sofa panjang bewarna putih di dalam ruangan yang tidak terlihat seperti kantor sama sekali.  Ruangan tersebut lebih tepat diberi sebutan studio. 
Karna di dalamnya hanya terdapat sebuah sofa panjang, sebuah meja kecil tempat meletakkan vas bunga dan beberapa kertas HVS yang berserakan diatasnya.  Sementara ruang kosong lainnya diambil ahli oleh manekin-manekin yang berbalut gaun pengantin jadi, setengah jadi ataupun gaun pengantin yang baru akan dibuat.
Dengan cekatan, Elva menggambar sebuah sketsa diatas selembaran HVS.  Dan sketsa gaun pengantin tersebut selesai dalam kurun waktu sepuluh menit.
“Bagaimana dengan sketsa ini?  Apakah anda menyukainya?” tanya Elva, menyerahkan kertas HVS dari tangannya pada Nanda.
Anggukan wanita tersebut memberikan jawaban puas atas hasil kerja Elva.  Dia terlihat bahagia dengan mata berbinar-binar.
“Aku menyukainya.  Aku menginginkan gaun pengantin sesuai sketsa ini saja.” Seru Nanda, menyerahkan kembali sketsa pada Elva.
“Baiklah.  Datanglah seminggu kemudian untuk fitting.” Elva memberitahu sambil mengantarkan Nanda ke arah depan tokonya.
“Terima kasih, Elva.  Kau perancang pertama yang dapat memberikan gaun pengantin yang kuinginkan.” Nanda memberikan pelukan singkat sembari kembali tersenyum bahagia.
“Sudah kewajibanku.” Elva tersipu malu atas sanjungan Nanda, “Anda datang sendirian?  Tidak bersama calon suami anda?”
“Dia menunggu di luar.” Nanda menunjuk ke arah seorang lelaki yang terlihat sibuk berbicara dengan ponsel di tangannya.
Senyuman di bibir Elva perlahan memudar seiiring dengan gerakan lambat memutar lelaki tersebut ke arahnya.  Bayang-bayang masa lalu kembali menghantuinya.  Perasaan dikhianati, benci, marah bercampur menjadi satu dalan seruan gemuruh hatinya.
Tanpa terasa, bulir-bulir airmata mengenang di balik ekor matanya.  Menunggu aba-aba pemiliknya untuk bergulir turun.  Namun, sebelum bulir-bulir air mata mengalir turun, Elva segera menyekanya.  Berharap Nanda tidak menyadari perubahan air mukanya.
“Sampai jumpa minggu depan.” Nada-nada getir menyertai lambaian tangan Elva pada Nanda yang kini berlalu di balik daun pintu.
Saat itu juga, Elva roboh ke lantai.  Tubuhnya bergemetar hebat menahan nangis.  Bahkan, dia hampir tidak dapat merasakan tubuhnya sendiri.  Seakan rasa sakit mengikat seluruh anggota tubuhnya.
Dia menangkupkan wajahnya ke dalam kedua lututnya.  Kedua tangannya terlingkar erat memegangi kedua lutut tersebut.  Air mata mengalir turun tidak henti.  Sesekali, sesengukan terdengar diantara tangisannya.
Mengapa harus dia?
***

Sekitar satu jam-an, Elva menghabiskan waktu untuk memperbaiki sketsa hasil rancangannya siang ini.  Pemilihan materi pun dilakukan dengan teliti.  Berbagai aksesoris tambahan disiapkan di meja lain.  Untuk memudahkannya sewaktu menjahitkan berbagai tambahan aksesoris ke atas permukaan gaun buatannya.

Merasa sedikit terganggu dengan rambut sebahu miliknya, Elva segera mengikatkan tinggi-tinggi rambutnya ke atas.  Hal yang tidak pernah lagi dilakukannya sejak kepergiaan Michael.  Dan, tiba-tiba saja, sepotong kenangan itu kembali hadir.
Saat itu, Michael menatapnya lekat-lekat untuk beberapa saat.  Tidak bersuara ataupun bergerak.  Elva mengeritkan dahinya, bingung.  Lalu dengan penasaran dia bertanya, “Kenapa menatapku seperti itu?   Ada yang salah dengan penampilanku?” Elva melihat ke arah pakaiannya, mencoba menemukan keanehan yang telah menyita perhatian Michael.
Lelaki itu hanya menggeleng pelan, “Tidak ada yang salah.  Kau terlihat cantik sekali saat mengikat seluruh rambutmu ke atas.  Aku menyukainya.  Lain kali, jika sedang bersamaku, ikatlah rambutmu.”
Elva tertawa lebar.  Tidak menyangka Michael dapat mengatakan hal menggelikan seperti itu.

Sekarang, dia merindukan perkataan itu.  Sangat merindukannya.  Terkadang, perkataan orang ada benarnya.  Kebahagiaan selalu datang dari hal kecil.  Dan saat kebahagiaan menghampirimu, kau harus memegangnya erat-erat.  Karna kau tidak pernah tahu kapan dia akan melarikan diri dari genggaman hatimu.
Elva menggelang pelan kepalanya.  Berusaha menghilangkan potongan kenangan masa lalu yang menyakitkan tersebut.  Dengan memokuskan diri pada pekerjaannya, Elva mengguting material kain yang telah dipilihnya menjadi dua bagian.  Lalu, tanpa membuang waktu, dia mulai membentuk guntingan mengikuti potongan sketsa yang telah digambarnya diatas karton.
Disaat dia telah selesai menggunting setiap potongan kain sesuai bentuk sketsanya, potongan kenangan lain kembali menghampirinya.

Waktu itu, senja sedang menghiasi keadaan langit di luar sana.  Hembusan angin sepoi dapat menidurkan setiap orang yang dibelainya.  Elva membaringkan kepalanya di salah satu sisi bahu Michael.  Keduanya sedang menikmati keindahan senja kota, ditemani secangkir kopi susu hangat.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Michael, meletakkan cangkir kopi di meja kecil di hadapannya.
“Aku sedang memikirkan betapa bahagianya aku jika dapat melewati waktu seperti ini, setiap harinya bersama denganmu.” Elva meneguk sekali kopi susunya.
“Kalau begitu, menikahlah denganku.  Maka kita dapat melewati waktu seperti ini, bersama selamanya.” Michael berkata dengan nada lembut, tidak terlihat bercanda sama sekali.
Elva menegakkan kepalanya.  Mengalihkan pandangannya ke arah Michael.  Dari tatapan matanya, dia terlihat bahagia sekaligus ragu.  Selama mereka berpacaran, Michael tidak pernah menyinggung masalah pernikahan.  Baginya asalkan dapat bersama, sudah lebih dari cukup.  Tidak perlu mengikatkan diri pada tali pernikahan.
“Kau sangat pandai bercanda.” ucap Elva kemudian, berusaha tertawa untuk menutupi kekagetannya.
“Aku serius, Elva.  Mungkin ini bukan lamaran terbaik yang pernah kau dengar.  Tapi, aku bersungguh-sungguh.  Menikahlah denganku.” Michael mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik kantong kecil kemeja yang terletak di bagian samping dadanya.
Elva menatap Michael tidak percaya.  Walaupun begitu, dia telah menyediakan jawabannya.

Buliran demi buliran air mata mengalir turun mengikuti irama tangan Elva yang sedang berusaha menyatukan potongan demi potongan kain.  Dilihat dari keahlihannya dalam menjahit gaun pengantin, bukanlah mustahil untuk menyelesaikan sebuah gaun dalam waktu semalaman.  Hanya dalam waktu beberapa jam, bagian atas dari gaun pengantin Nanda telah selesai. 
Waktunya untuk menjahitkan bagian ekor gaun pengantin beserta aksesoris lainnya untuk memperindahkan keberadaan gaun tersebut.  Masih berperasaan gundah, Elva berusaha menjahit bunga-bunga kecil dari materi berbahan renda. 
Siapa yang dapat menyangka bahwa ternyata dia membuatkan gaun pengantin untuk wanita yang akan menikahi mantan calon suaminya.  Elva yakin tidak ada wanita lain di dunia ini yang sebodoh dirinya.
Dan kehadiran potongan kenangan lainnya juga tidak mau kalah untuk meramaikan pikiran Elva.

Tidak lama setelah lamaran Michael, pertengkaran demi pertengkaran kecil mulai menghiasi hari-hari mereka.  Dimulai dari kesibukkan masing-masing hingga perbedaan pendapat yang tidak pernah muncul sebelumnya.
Perang dingin pun berkumandang diantara mereka.  Perang dingin paling parah dalam sejarah hubungan mereka.  Tidak berbicara berhari-hari.  Tidak mengabari keadaan masing-masing, menjadi pihak dari kedua belah pihak.  Hingga akhirnya, Michael memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka.  Saat itu juga, Elva merasakan hatinya hancur berkeping-keping.
Dengan segala cara, dia berusaha memohon Michael untuk tidak membatalkan pernikahan mereka.  Dia berusaha memberikan berbagai solusi untuk menyelesaikan perang dingin diantara mereka.  Bahkan Elva bersedia mengalah setiap kali mereka bertengkar.
Namun, permasalahannya bukan terletak pada Elva.  Melainkan Michael.  Pertengkaran dingin selama berhari-hari membukakan mata Michael bahwa hubungan mereka telah mencapai tahap dingin.  Cinta telah meninggalkan hatinya tanpa dia sadari. 

Elva mencampakkan gunting dari tangannya ke atas lantai.  Dia berteriak histeris.  Merasa kecewa, dikhianati oleh seseorang yang telah berjanji akan membahagiakannya seumur hidupnya.  Dia menjambak sendiri rambut dengan kedua tangannya.  Berharap bahwa dia akan segera terbangun dari mimpi buruk.  Berharap bahwa Michael masih bersamanya.  Berharap bahwa pernikahannya mereka tidak pernah dibatalkan.
Lalu, potongan kenangan paling terakhir menunjukkan diri.

Beberapa minggu setelah mereka berpisah, Michael memberitahu Elva bahwa dia akan pindah kerja ke negara lain.  Dia berharap Elva dapat menemukan kebahagiaannya sendiri.
“Kenapa kau harus begitu padaku?  Bukankah selama ini kita bahagia?  Bukankah selama ini kita selalu berbaikan setela bertengkar?  Mengapa harus berpisah kali ini?  Mengapa harus membatalkan pernikahan kita?” Elva menangis terisak, berharap masih sempat meluluhkan hati Michael untuk tidak membatalkan pernikahan mereka.
“Aku minta maaf.”
“Jangan hanya meminta maaf.” Elva berteriak, “Berikan aku satu alasan.  Mengapa harus membatalkan pernikahan kita?”
“Aku telah mengkhianatimu.  Aku memiliki orang lain dihatiku.”
Pengakuaan tersebut terdengar seperti musik bunuh diri bagi Elva.  Sejak percakapan terakhir tersebut, mereka kehilangan kontak.

Elva menghembuskan nafas panjang saat gaun rancangannya terpajang indah di salah satu manekin di hadapannya.  Gaun renda dihiasi pita menjuntai indah ke lantai.  Sedangkan bagian atasnya diberikan sedikit sentuhan gaya Yunani. 
Akhirnya, gaun pengantin tersebut berhasil diselesaikannya.  Butuh kekuatan lebih untuk menjahit setiap potongan demi potongan kain.  Butuh keberaniaan besar untuk menghadapi kenyataan bahwa gaun pengantin tersebut bukan dibuat untuk dirinya sendiri.
Memang benar, Elva telah mengganti hasil rancangan yang ditunjukkan pada Nanda siang ini.  Dia telah membuat sebuah gaun pengantin berdasarkan suara hatinya.  Sebuah gaun pengantin impian yang ingin dikenakannya saat bersanding dengan Michael di pelaminan.
Sebuah masa depan yang tidak akan pernah tercapai.
***
Seminggu kemudian, Nanda menepati janjinya.  Wanita itu mendatangi Elva pada sore hari, disaat toko mulai sepi pengunjung.  Namun, kali ini dia tidak sendirian.  Seseorang juga ikut menemaninya.  Dan disaat Elva selesai memakaikan gaun pengantin rancangannya pada Nanda, seorang lelaki berjalan mendekati mereka berdua.
Michael tertengun, tidak percaya pada pandangannya.  Ternyata dunia begitu sempit.  Namun, dia tidak menunjukkan reaksi lainnya selain seulas senyum tipis.
“Lama tidak berjumpa” ucap Michael seakan sedang berjumpa dengan sahabat lama.
“Lama tidak berjumpa.” Balas Elva, tersenyum sebelum kembali berkata, “Selamat atas pernikahanmu.”
Mencintai seseorang tidak harus memilikinya.  Selama orang itu berbahagia, maka kau juga akan berbahagia.  Elva telah mengerti maksud dari perkataan tersebut.  Dan dia merestui pernikahan Michael dan Nanda.
Dia yakin, Michael juga akan merestuinya saat dia menemukan kebahagiaannya sendiri.  Di masa mendatang.


Sunday, April 17, 2011

Untitle

Aku tidak pernah meminta lebih darimu.  Permintaanku pun sangatlah sederhana.  Sesederhana aku mecintaimu dan berharap kau juga mencintaiku.
 
Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa permintaan sesederhana ini pun tidak bisa kau penuhi.

Lalu, masih pantaskah kau memintaku untuk terus mencintaimu?

Sunday, April 3, 2011

Saat Hujan Turun

Aku kembali menatap ke arah jendela yang terlihat tepat di hadapan mataku.  Di luar sana, hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan beranjak pergi.  Perlahan, suara halilintar menyelingi.  Membuat suasana yang dingin ini semakin terasa kelam.
Saat salah satu pelayan di café ini menghampiriku, aku tersenyum padanya.  Dia bertanya apakah aku ingin menambah pesanan karna setengah jam lagi last order.  Aku menggelengkan kepala dengan pelan dan membalas bahwa aku akan pergi dalam waktu beberapa menit lagi.
Sebenarnya, aku tidak punya alasan khusus.  Mengapa setiap kali hujan turun, aku selalu memilih café ini untuk menghabiskan waktu.  Terkadang hanya sebentar, terkadang dalam kurun waktu beberapa jam.
Mungkin sebagian dari diriku ini mengharapkan kehadiran dia. Seseorang yang kujumpai beberapa tahun yang lalu.  Jika kau bertanya padaku, apakah aku mengenalnya, maka aku akan menjawab tidak.
Itulah yang sebenarnya.  Aku sama sekali tidak mengenalnya.  Kami hanya pernah menghabiskan waktu bersama selama berjam-jam pada hari itu saja.
Saat hujan turun dengan derasnya.

***
Waktu itu, hari masih sore.  Sekitar pukul tiga sore.  Aku memang meminta izin pulang kantor lebih awal saat itu.  Aku merasa sedikit tidak enak badan.  Namun, baru beberapa langkah aku lalui, hujan menghujamiku tanpa rasa ampun.
Membuatku terpaksa memasuki sebuah café mungil di sudut jalan. Dengan enggan, aku menghabiskan waktu menunggui hujan reda sembari menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang kubawa pulang.  Meja berukuran persegi dengan taplak meja biru muda berenda terlihat penuh.  Beberapa dokumen, agenda serta laptop kesayanganku memenuhi setiap inchi dari meja itu.
Bahkan saat pelayan yang melayaniku datang membawakan pesananku, aku hanya tersenyum malu padanya.  Karna tidak ada tempat kosong yang tersisa.  Hingga pada akhirnya, dia merapatkan sebuah meja lagi yang terlihat di sudut café.
Aku mengucapkan terima kasih sembari menyuruhnya menaruh pesananku di meja yang satu lagi.  Dalam waktu beberapa jam ke depan, aku tenggelam dalam pekerjaanku.  Hingga seseorang membuyarkan seluruh konsentrasiku.
Dia bertanya padaku apakah dia boleh duduk di salah satu kursi yang ada di hadapanku, karna seluruh kursi ataupun meja yang tersedia di café ini sudah terisi penuh.  Dengan sekali pandang, aku menyapukan tatapanku pada seluruh isi ruangan.  Yang memang pada kenyataannya kini sudah dipenuhi orang-orang yang sama denganku, menghindari hujan.
Aku mempersilahkannya duduk, lalu kembali pada pekerjaanku.  Suasana menghening sesaat.  Sebelum pada akhirnya, dia membuka pembicaraan dengan bertanya apa yang sedang kukerjakan. 
Aku hanya menjawab sekedarnya.  Dan entah bagaimana dan dimulai darimana, aku-dia, terlibat pembicaraan yang cukup panjang.  Kami terlihat seperti dua orang yang bersahabat baik sejak lama.
Bercerita seakan begitu banyak cerita yang harus diceritakan pada satu sama lain.  Sesekali bercanda seakan bumbu itu diperlukan dalam pembicaraan kami yang tidak terkesan berat sedikitpun.  Bahkan kami tidak kehabisan topik pembicaraan. 
Dengan mudahnya, kami berganti dari satu topik ke topik yang lain.  Tanpa sungkan kami menyambungi kalimat, perkataan satu sama lain.  Tertawa dan saling mengejek tanpa ada tidak enak.  Bahkan kami sempat bercanda dengan beberapa kesamaan yang kami miliki.
Caramel macchiato.  Buku sastra.  Cuaca mendung berawan.  Musik jazz. 
Dan pertemuan singkat itu harus kami akhiri saat seorang pelayan memberitahukan bahwa café akan segera ditutup dalam kurun waktu lima belas menit.  Serentak, kami menatap ke arah jam tangan masing-masing yang kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Waktu yang panjang akan terasa begitu singkat.  Saat kamu menghabiskannya dengan orang yang tepat, suasana yang mendukung serta pembicaraan yang tak kunjung berakhir.  Berharap bahwa waktu akan berbaik hati dan berjalan lebih lambat dari yang seharusnya.
Jujur saja, disaat dia melambaikan tangannya padaku dan masuk ke dalam taksi, aku merasa sedikit kehilangan.  Aku tidak tahu dimana kantornya.  Apa pekerjaannya.  Bahkan yang paling parah, aku tidak bertanya siapa namanya.
Namun, aku merindukannya.

***
Aku berdiri dan berjalan ke kasir untuk membayar.  Di luar sana, hujan sudah tidak selebat tadi, tapi tetap saja keadaan langit tidak dapat membuatku menerka apakah hari sudah beranjak dari sore ke malam.
Aku kembali tersenyum kecil sebelum beranjak keluar dari café tersebut.  Dengan lambat, aku membuka payung besarku.  Berharap bahwa dia akan berjalan datang dari tikungan jalan dan melemparkan sebuah senyuman hangat padaku.  Bertanya bagaimana kabarmu dan mengajakku untuk menemaninya hingga hujan benar-benar reda.
Terkadang, saat kamu terlalu merindukan seseorang, tidak peduli seberapa sedikit waktu yang tersisa.  Seberapa kecil kesempatan yang ada, kamu tidak akan pernah berhenti berharap.  Pada sebuah keajaiban yang mungkin saja terjadi di dalam setiap detik selama harapan itu masih ada.
Mungkin aku terlalu banyak berharap pada pertemuan yang tidak disengajai.  Percakapan yang menghangatkan hati di dingin menyergap.  Perkenalan yang tidak membutuhkan nama.  Semua hanya terjadi pada saat itu.
Saat hujan turun.

Thursday, February 17, 2011

The Story That Only I Didn't Know

Di luar sana, angin berhembus cukup kencang.  Spanduk-spanduk yang terpampang di jalanan terus berkibar sembarangan.  Dari kejauhan, terlihat seakan sedang melambai ke arah para pejalan kaki yang sedang mempercepat langkah mereka. 
Sebentar lagi, kedudukan musim gugur akan tergantikan oleh kedatangan musim dingin.  Walaupun masih berada diantara peralihan musim, namun angin yang bertamu cukup dingin di malam harinya.
Yan Er mengeluarkan sebuah syal dari tas selempangnya.  Tanpa membuang waktu, dengan cekat, dia melilitkan syal itu ke lehernya.  Hari sudah semakin malam.  Jika dia tidak segera pulang, mungkin saja tubuhnya tidak akan mampu menahan udara dingin di malam hari. 
Seandainya saja dia tidak lupa mengambil jaketnya sewaktu berangkat kerja, mungkin sekarang ini dia masih bisa berjalan santai.  Sesekali berhenti sejenak.  Mengamati semburat percampuran warna jingga, putih yang segera diliputi malam yang mulai memanggil.
Sejenak, Yan Er mendongakkan wajahnya ke atas.  Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya.  Seketika itu juga beberapa memori bergantian memenuhi isi kepalanya.  Itulah saat-saat bahagianya.
Beberapa detik kemudian, dia tersadar dari lamunannya.  Sesaat sebelum menurunkan pandangannya, dia kembali melihat matahari yang sudah tidak tampak lagi.  Meninggalkan beberapa guratan cahaya yang akan segera menghilang.  Dengan perasaan bahagia yang memenuhi relung hatinya, Yan Er meneruskan kembali langkah kakinya. 
Apakah dia akan menyukai kejutan yang akan kuberikan?
Pikiran itu yang menemani Yan Er sepanjang perjalanan pulang.


Hanya dalam waktu sejam, Yan Er sudah selesai menata segala sesuatunya.  Khusus untuk hari ini, dia sudah menghabiskan seminggu waktu persiapan.  Membeli segala keperluan.  Merancang kejutan yang akan diberikan.  Serta memilih hadiah yang disukai orang itu.  Seseorang yang memiliki ruang special di tengah hatinya.  Seseorang yang bernama Hao Feng.
Di atas meja makan berbentuk persegi yang dihiasi taplak putih berrenda, Yan Er meletakkan sebuah kue ulang tahun hasil buatannya di tengah.  Lalu di sebelah kanan dan kiri diletakkan sebuah piring lengkap dengan gelas wine dan peralatan makan lainnya.
Sembari berdendang dengan riang, dia kembali menatap hasil tataannya.  Sesekali menggeser segala sesuatu yang dilihatnya masih belum pas.  Tidak lama kemudian, bunyi alarm terdengar dari arah dapur. 
Setengah berlari, Yan Er memasuki dapur.  Menambahkan beberapa bumbu ke dalam masakannya.  Lalu mencicipinya dengan sendok kecil.  Setelah merasa rasa masakannya sudah pas, dia kembali menutupnya dengan penutup makanan.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam, namun Hao Feng masih belum mengabarinya.  Yan Er tidak ingin berpikiran buruk di hari special ini.  Mungkin dia sedang merampungkan rapatnya.
Setidaknya itulah jawaban seseorang tersebut, saat Yan Er meneleponnya.  Kini, wanita berambut sebahu itu membaringkan dirinya di atas sofa sejenak.  Tubuhnya terasa cukup lelah.  Sebagian diakibatkan pekerjaan yang menupuk di meja kerjanya.  Sebagian dikarenakan persiapan yang dilakukannya sepulang kerja.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu.  Ada sesuatu yang lupa dibelinya.  Dengan segera dia mengambil mantelnya dan berlari keluar rumah.


Dengan sebuah tas plastik bergelantungan di salah satu pergelangan tangannya, Yan Er melakukan panggilan.  Namun, tidak ada yang menjawab.  Sekali lagi dia melakukan panggilan, tapi hasilnya tetap saja sama.  Tidak ada yang menjawab.
Hatinya mulai tidak tenang, tapi segala pikiran buruk segera dihilangkannya. 
Dia bukan orang yang tidak menepati janjinya, Yan Er menekankan kalimat itu berkali-kali pada dirinya sendiri.  Dengan sedikit terpaksa, dia tersenyum pada dirinya sendiri.  Berkata pada hati kecilnya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Kali ini, dia tidak mempercepat langkahnya.  Dengan harapan bahwa saat dia pulang nanti, Hao Feng sudah berada di dalam rumah dan menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.
Kembali lagi, Yan Er melirik jam tangannya.  Sudah jam 9 malam.  Tidak biasanya Hao Feng rapat hingga selarut.  Hanya pada setiap akhir bulan saja, tunangannya itu mengikuti rapat hingga larut malam.  Dan hari ini jelas bukan akhir bulan.
Dikeluarkannya lagi ponsel dari dalam saku mantel dan kembali melakukan panggilan.  Kali ini bukan hanya tidak dijawab, melainkan ditolak.  Entah mengapa, hati Yan Er semakin tidak tenang.  Apakah benar Hao Feng sedang berada di tengah rapat?
Di seberang jalan, samar-samar Yan Er melihat seseorang yang memiliki wajah mirip dengan Hao Feng.  Namun, orang itu tidak sendirian.  Dia berjalan memasuki sebuah restaurant kawasan elit dengan seorang wanita yang sedang menggandeng lengannya.
Dengan rasa penasaran untuk mencari tahu kebenarannya, Yan Er menyeberang jalan.  Berusaha memastikan bahwa orang itu bukanlah Hao Feng.  Memberikan bukti pada dirinya sendiri, bahwa Hao Feng masih berada di dalam kantor dan memberikan beberapa pengarahkan di dalam rapat.
Namun, saat Yan Er berdiri tepat di depan salah satu jendela restaurant tersebut, dia terdiam.  Hatinya berdegup dengan kencang dan aliran nafasnya tidak terkendali.  Bahkan dia merasakan kini dirinya kesulitan bernafas.
Tidak salah lagi.  Lelaki itu adalah Hao Feng.  Dan dia tidak sedang dalam keadaan rapat dilihat dari segi manapun.  Perlahan, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya.  Kemudian berjatuhan tanpa henti.
Yan Er menutup matanya.  Memohon, berdoa, berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi.  Namun, saat dia kembali membuka matanya.  Hao Feng masih tetap berada disana, membuka sebuah kotak bewarna hitam.  Memakaikan isinya pada wanita yang sedang duduk di depannya.
Saat itu juga, Yan Er merasa nafasnya terhenti.  Kepalanya terasa berat dan pandangannya mulai menggelap.  Tubuhnya mulai terasa berat dan dia bisa merasakan bahwa sebentar lagi, dia akan segera roboh.
“Anda tidak apa-apa?” tanya salah seorang pejalan kaki yang menggenggam erat lengannya dan menahannya supaya tidak jatuh.
“Tidak apa-apa.” Yan Er mencoba tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada jendela restaurant tersebut.
“Anda yakin?” tanya pejalan kaki itu.
“Iya.  Aku tidak apa- apa.  Terima kasih.” Kali ini Yan Er melepaskan genggaman pejalan kaki tersebut.
Lalu, dia membalikkan badannya melihat ke dalam arah restaurant sekali lagi.  Di depannya terlihat adengan Hao Feng yang sedang menuangkan segelas wine ke dalam gelas dan melakukan cheer dengan wanita di depannya yang tidak berhenti tersenyum.
  Yan Er mengambil nafas panjang dan mengambil langkah meninggalkan mereka.


Butuh waktu lama bagi Yan Er untuk menenangkan dirinya sendiri.  Kejadian yang baru saja dilihatnya masih meninggalkan segores bekas luka yang mendalam di hatinya.  Berlinangan air mata, dia mengambil sendok yang tersedia di atas meja dan mulai menyendok penuh kue ulang tahun tersebut ke dalam mulutnya.
Setiap kali dia menyendoki dirinya sendiri, detik itu juga, dia meneteskan air mata.  Dia tidak pernah menyangka bahwa kue ulang tahun yang dibuatnya sendiri harus dihabiskannya sendirian.
Yan Er berhenti sejenak, dengan mulut dan wajah belepotan krim kue, dia menangis, kemudian menelungkupkan wajahnya ke atas meja.  Menangis sejadi-jadinya.  Berteriak keras, mengeluarkan kesakitan yang dia rasakan diantara retakan relung hatinya.
“Beginikah caramu mencintaiku, Hao Feng?” bisik Yan Er pada dirinya.
Ditatapnya cincin polos yang melingkar manis diantara jari tengah dan jari kelingkingnya.  Lalu, dengan berat hati, dia mengeluarkan cincin itu dari jari manisnya.  Meletakkannya diatas meja lalu menuliskan sesuatu diatas secarik kertas.  Dan menyelipkannya di bawah cincin.
Dengan langkah gontai, Yan Er berjalan keluar rumah dan menutup pintu tanpa menolehkan kepalanya.
Semuanya sudah berakhir sekarang.

Tuesday, August 24, 2010

Rasa yang Tertinggal ( FIN )


Di sudut ruangan café, di dekat jendela, Dhea dan Angga duduk berhadapan.  Jika diperhatikan dengan seksama semuanya masih sama seperti lima tahun yang lalu.  Saat pertama kali mereka berkencan.
Tempat duduk yang selalu sama setiap kali mereka datang.  Lagu mellow yang selalu menjadi teman setia.  Menu pesanan yang tidak pernah berubah.  Kegiatan masing-masing yang sama monotonnya dengan perputaran bumi mengelilingi matahari.  Namun, ada yang berubah.
Raut wajah mereka tidak lagi terlihat berbinar saat memandangi satu sama lain.  Tidak ada senyuman.  Tidak ada percakapan kecil.  Seakan mereka hanyalah dua orang asing yang duduk bersama di satu meja.  Tidak ada yang tahu dengan pasti, kapan tepatnya perubahan ini terjadi.
“Ga, aku ingin bicara.” seru Dhea memulai pembicaraan.  Tangan kirinya sibuk mengaduk segelas kopi di hadapannya yang masih mengepulkan asap.
“Apa?” balas Angga cuek tanpa menghentikan gerakan jarinya dari ketikan di keyboard laptop.
“Aku tidak suka jika kau mengerjakan sesuatu saat sedang berbicara denganku.” Dhea terlihat mulai kesal dengan sikap Angga yang seakan tidak menghargai keberadaannya.
“Aku juga tidak suka dengan cara bicaramu yang suka membentak.” Tangannya berhenti mengetik, lalu laptop didepannya ditutup dan kini bergeser ke samping.
Dhea menghela nafas, “Aku merindukan masa-masa dulu kita, Ga.  Di saat kita masih bisa bercanda tawa dan membicarakan hal-hal yang tidak penting.  Setidaknya kita masih berkomunikasi.”
Angga menolehkan kepalanya menatap ke luar jendela.  Telinganya masih mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Dhea.  Hanya saja, dia sudah tidak sanggup lagi untuk menatap ke dalam mata wanita itu.  Ada perasaan bersalah dihatinya.
“Banyak perubahan yang terjadi akhir ini.  Apakah kau menyadarinya?” Dhea melanjutkan, “Kau telah berubah, begitu juga dengan aku.”
“Aku tahu.  Aku juga menyadarinya, hanya saja aku tidak tahu bagaimana membicarakannya denganmu.  Kau tahu, setiap kali kita bertemu, aku selalu sibuk dengan tugasku dan kau selalu sibuk dengan bukumu.” Akhirnya Angga memutuskan untuk angkat bicara.
Memang sudah saatnya bagi mereka untuk bicara dari hati ke hati.  Supaya segalanya menjadi jelas dan tuntas.  Sehingga di kemudian hari tidak ada pihak yang akan terluka lebih dalam.
“Aku tidak dapat mengingat kapan terakhir kalinya kita berbicara lebih dari lima menit.” Ucapan terakhir Dhea lebih terdengar seperti bisikan pada dirinya sendiri.  Dia berhenti mengaduk gelas kopinya dan menyandarkan diri ke belakang sofa sambil melipat kedua tangannya.  Lalu, dia kembali melanjutkan, “Apakah hubungan ini masih bisa disebut hubungan?”
Pertanyaan Dhea sempat membuat Angga tersentak beberapa detik.  Dengan perlahan, dia menatap ke arah Dhea.  Berharap untuk menemukan secercah harapan disana.  Sayangnya harapan itu telah redup.  Kini, dia yakin bahwa cinta telah meninggalkan hatinya tanpa berpamit, “Mungkin sudah saatnya hubungan ini kita akhiri.”
Suasana hening untuk beberapa saat.  Dhea membalas tatapan Angga dengan tatapan tidak percaya.  Namun, dengan segera dia mendapati bahwa sebagian besar hatinya merasa lega saat mendengar perkataan tersebut.  Hatinya yang tercuri telah berpulang pada tempatnya.  Dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun dia membalas, “Ya, sudah saatnya kita mengakhiri hubungan ini.”
Keduanya tersenyum lebar satu sama lain.  Ada perasaan aneh yang menyusup diantara relung hati mereka.  Seperti dua ekor burung yang terlepas dari sangkar emas dan siap menempuh hidup baru di luar sana.
Saat cinta pergi, dia selalu meninggalkan jejaknya.  Kenangan indah untuk dikenang.




Sunday, August 22, 2010

Rasa yang Tertinggal - Teaser


“DHEA”

Aku selalu menyukai suasana seperti ini.  Keadaan yang tenang, suasana yang mendukung, background lagu yang mellow dan kamu yang duduk di depanku.  Rasanya dengan semua ini sudah sangatlah cukup untuk membuatku tersenyum seharian.  Seakan kebahagiaan di seluruh dunia sedang berada dalam genggaman tanganku.
Memandangi wajahmu yang serius mengerjakan kesibukanmu sendiri di depan laptop sembari menyeruput secangkir kopi panas mampu membuatku tersenyum tidak jelas.  Entah karna tampangmu yang serius itu terlihat lucu di depan mataku.  Atau aku yang sudah kehilangan kewarasanku.  Dan saat kau mencuri pandang kearahku, walaupun kau mengira aku tidak bakalan mengetahuinya, aku dapat merasakan seakan perutku dipenuhi ribuan kupu-kupu yang sedang menari.  
Apakah ini yang mereka bilang jatuh cinta?  Kalau begitu, aku akui, aku kalah.  Kau sukses telah mencuri hatiku.  Kau yang selalu sibuk dengan laptopmu.  Kau yang jarang berbicara denganku.  Kau yang tidak romantis.  Kau telah menang mencuri pergi hatiku.  Tidak hanya setengah, tetapi seluruh hatiku. 
Dulu, ya, dulu. Aku sangat yakin dengan cinta ini. 
Sekarang.  Aku bimbang. 
Apakah cinta ini masih sama dengan cinta yang kurasakan padamu lima tahun yang lalu?
Aku tidak yakin pada diriku.
               

***



“ANGGA”

Aku tidak pernah bisa mengerti apa yang sedang dipikirkan wanita yang sedang duduk di depanku ini.  Tanpa dia sadari, aku selalu mencuri pandang kearahnya dan mendapati bahwa dia sedang memandang kearahku, sementara kedua tangannya memegang sebuah buku.
Apakah aku yang sedang dia pandangi, atau buku ditangannya yang sedang dia baca?  Pernah terlintas beberapa kali di benakku untuk bertanya padanya, tapi aku takut jika aku bertanya, maka dia tidak akan pernah memandangku dengan tatapan seperti itu lagi.  Dan aku tidak ingin kehilangan pandangan itu.
Mungkin ini kedengarannya lucu.  Tapi, aku sangat menyukai tampangnya yang sedang memandangiku.  Seakan dialah malaikat yang diturunkan dari langit untukku.  Kedua bola matanya yang bening, bibirnya yang mungil serta kedua pipinya yang temben selalu membuatku ingin mencuri pandang kearahnya, walaupun pekerjaan di depan laptopku ini sedang bertumpuk dikejar deadline.
Ada saat dimana mata kami bertemu pada satu titik dengan tidak sengaja.  Dan pada saat itu, irama hati dalam dadaku selalu berdetak tidak karuan.  Apakah ini yang mereka sebut dengan rasanya jatuh cinta?
Kalau begitu, aku telah jatuh cinta padanya.  Aku sangat berharap dia menjadi pelabuhan terakhir dalam hidupku.  Menemani sepanjang hari di sampingku, seperti saat ini.  Walaupun aku selalu sibuk dengan pekerjaan kantorku baik di hari kerja maupun hari libur.  Walaupun kami jarang berbicara satu sama lain, tapi hanya dengan bersamanya, aku merasa puas.    
Tapi, entah sejak kapan getaran cinta itu berhenti.  Dadaku tidak lagi berdetak kencang setiap kali aku menatapnya.  Aku tidak pernah lagi mencuri pandang ke arahnya.  Dan keberadaannya di sampingku sudah tidak penting lagi. 
Seakan cinta telah pergi meninggalkan hati ini.

Thursday, August 19, 2010

Cerita Pada Waktu Hujan - Bagian Kedua (Final)



Sudah hampir setengah jam Selva menunggu sendirian di halte bus.  Hujan yang turun pun tidak lagi memperdulikan dirinya.  Bahkan angin malam menghembuskan dinginnya dengan kejam.  Sesekali Selva menggosokkan sebelah tangannya yang masih bebas ke arah lengan yang lain.  Sementara tangan yang lain memegang payung dengan erat supaya tidak terbang terbawa angin.


Lalu, dikeluarkan ponsel dari dalam saku celana panjangnnya.  Berkali-kali dia menelepon Andre, tapi tidak sekalipun lelaki itu menjawab.  Dan setiap kali Selva mendengar rekaman untuk memintanya meninggalkan pesan, dia mematikan panggilan.


Kamu dimana, Dre?


Selva mendudukkan badannya diatas sebuah bangku panjang bewarna biru di halte bus tersebut.  Tidak ada tanda bahwa dia akan segera pulang ke rumah sebelum bertemu dengan Andre.  Payung bewarna biru muda yang dipegangnya sedari tadi diletakkan di sampingnya.  Kedua lututnya dilipat.  Dan kepalanya ditelengkupkan diantara kedua lututnya.


Sebenarnya Selva tidak ingin menangis.  Namun, ada sesuatu dari dalam dirinya yang mendorongnya untuk menangis.  Perlahan tangisan itu pun semakin keras dan semakin keras.  Dia tahu dia sedang terjerumus ke dalam sebuah lobang yang sangat besar. 


Semua orang ingin menolongnya, tapi tidak dengan dirinya sendiri.  Dirinya merasa lebih nyaman berada di dalam lobang besar nan gelap itu daripada menghadapi kenyataan yang sangat menyakitkan. 


Di ujung jalan seorang wanita berlari kecil dengan memegang sebuah payung.  Sekujur tubuh bagian belakangnya basah akibat percikan hujan sewaktu berlari.  Wanita itu memperlambat langkahnya saat menggapai halte bis. 


“Sel……Selva…..” panggil wanita itu sambil mengguncang badan adiknya.


Selva mendongakkan kepalanya keatas, melihat ke dalam kedua bola mata Dara.  Tidak ada sepatah kata pun yang dia ucapkan.  Melalui tatapan Selva pada dirinya, Dara bisa merasakan apa yang sedang dirasakan adiknya.  Rasa sakit yang teramat sangat akan kehilangan seseorang yang sangat dicintai.


Ada pemikiran kecil yang menghampiri pikirannya.  Apakah Selva sudah mengingat semuanya?  Apakah Selva sudah tahu bahwa Andre…..


“Bolehkah aku berhenti menemui Dokter Steve?” Selva bertanya secara tiba-tiba dengan semangat sambil menghapus air mata dari kedua pipinya.


Dara tersentak dengan pertanyaan mendadak itu.  Dia tidak mampu mencerna dengan baik maksud di balik pertanyaan itu.  Hingga akhirnya dia hanya berdiri dan terdiam untuk waktu yang cukup.


Melihat tidak ada tanggapan apapun dari kakaknya, Selva kembali melanjutkan, “Aku merasa semakin sering aku menemui Dokter Steve, maka bayangan Andre semakin menjauh dariku.  Mungkin Andre merasa cemburu karna aku sering bertemu dengan Dokter Steve.  Ya, pasti begitu.  Pasti dia sedang cemburu makanya dia tidak menelepon ataupun mencariku.  Dia…..”


Sedikit demi sedikit Dara mulai memahami inti dari perkataan Selva.  Dia mencoba memotong perkataan adiknya sebelum pembicaraan itu berubah menjadi pembicaraan yang tidak masuk akal.  Sudah saatnya untuk mengakhiri sandiwara ini.  Walaupun kenyataan yang akan dia katakan nantinya dapat menyakiti hati Selva.  Baginya lebih baik menyakitinya sekarang daripada membiarkan Selva menyakiti dirinya seumur hidup.


Harapan seorang kakak sangatlah sederhana.  Hanya ingin melihat adiknya tertawa setiap menit, bukan membiarkannya menangis setiap detik.


“Andre sudah mati.” Dengan segala kebulatan tekad dalam hati, Dara memberitahukan kebenaran yang disembunyikan oleh semua orang selama ini,” Dia sudah mati dua bulan yang lalu karna kecelakaan di jalan tol itu.  Kau ingin membohongi dirimu sendiri hingga berapa lama?” tanya Dara yang sudah tidak mampu mengendalikan emosinya, “Aku sudah tidak tahan lagi, Sel.  Kau tahu betapa sakitnya hatiku setiap kali aku melihatmu mencuri menangis setiap malam?  Berlagak seakan Andre masih hidup setiap harinya?  Bercerita tentang dirinya seakan dia masih bersama kita?  Dan setiap kali hujan, kau selalu membawakan payung dan menunggunya di halte bis hingga pagi.  Kenapa harus membohongi dirimu sendiri, padahal jauh di lubuk hatimu yang paling dalam kau tahu Andre sudah meninggal?”


Selva tercengang.  Dia tidak pernah menyangka bahwa kakaknya mampu mengeluarkan kata-kata seperti peluru yang menembus tepat di hulu hatinya.  Dia ingin menyangkal bahwa Andre sudah tiada.  Bahwa semuanya hanyalah kebohongan yang dikarang kakaknya.  Sayangnya, dia tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.  Karna itulah kebenaran yang sedang ditutupi dirinya sendiri.


Selama ini dia mengarang kebenaran lain untuk menutup kebenaran sejati.  Bahwa Andre selamat dari kecelakan di jalan tol.  Nyawanya berhasil diselamatkan di rumah sakit, padahal kenyataannya Andre meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.


Dia juga selalu menciptakan keadaan dimana Andre masih bersamanya.  Setiap pagi meneleponnya untuk mengucapkan selamat pagi.  Setiap siang tidak pernah lupa mengingatkannya untuk makan siang.  Dan Setiap malam menyanyikan sebuah lagu yang mengantarkannya ke alam mimpi.


Semua itu dilakukan diri Selva hanya untuk mengelabui alam bawah sadarnya bahwa Andre sudah pergi untuk selamanya.  Dia tidak keberatan hidup dalam kebohongan ini seumur hidupnya asalkan Andre selalu bersamanya.


“Sadarlah, Sel.  Andre sudah tiada.  Kakak mohon sadarlah.” Dara mengguncang pelan bahu Selva hingga akhirnya dia memeluk erat diri adiknya yang sedang duduk seperti patung dengan tatapan kosong.


  “Kak…” Selva memanggil Dara dengan suara yang sangat pelan, “Aku rela kehilangan semua hal di dunia ini.  Tapi, aku tidak bisa dan tidak boleh kehilangan Andre.  Tidak boleh, Kak.”


Perlahan setetes demi setetes air mata Selva mengalir dari pelupuk matanya, “Aku rela hidup dalam kebohongan ini.  Sungguh.  Jadi kumohon jangan pernah membangunkanku.  Aku tidak akan sanggup hidup dengan perasaan sesakit ini.  Rasanya lebih baik aku mati daripada harus menghadapi kenyataan itu.”


Dara memperat pelukannya pada Selva.  Mungkin untuk saat ini Selva belum siap untuk keluar dari dunia khayalannya.  Tapi, dia yakin dengan segenap hatinya bahwa suatu saat nanti Selva akan meninggalkan dunia yang penuh dengan kepalsuan itu dan kembali pada dirinya dan dunia ini.


Hari itu akan segera tiba.