Sunday, March 28, 2010

Saat

Saat malam terdiam.
Aku memikirkan dirimu.

Saat dingin menyapa.
Aku merindukan kehangatanmu.

Saat sunyi berpaling.
Aku menanti kehadiranmu.

Saat angin berhembus.
Aku menitipkan pesan untukmu.

Saat kerinduan menyerang.
Aku berharap kedatangan dirimu.

Saat harapan pergi.
Aku pun meninggalkan dirimu.

Monday, March 22, 2010

Mimpi dan Kenyataan


Saat mentari masih bersandar pada malam.
Aku terbangun dalam jeritan senyap.
Lagi dan lagi.
Mimpi itu terus memburuku.
Membelengguku dengan penjara ketakutan.
Kutatap kau yang sedang terlelap di samping.
Kau masih disana.
Aku bernafas lega.
Sayangnya....
Saat aku ingin menggapaimu.
Kau menghilang seiring udara.
Aku tersentak takut.
Sulit untuk membedakan.
Mana mimpi.
Mana kenyataan.

Sunday, March 7, 2010

Sepotong Curhatan


Ada saat dimana hati.
Tidak mampu bercerita.
Tidak mampu berkata apapun.
Tidak mampu bersuara.
Tidak mampu menampung semuanya.
Hanya mampu menangis.
Maka disaat aku sedang menundukkan kepala.
Janganlah bertanya kepadaku mengapa.
Janganlah bertanya kepadaku apa yang terjadi.
Tapi.
Tetaplah di sampingku.
Karna aku hanya butuh alasan
untuk menghentikan airmata ini.
Bahwa masih ada seseorang yang menemani.
Bahwa masih ada orang yang mempedulikanku.
Bahwa masih ada orang disampingku saat kutolehkan kepala ini.
Bahwa aku tidak sendirian.

Sunday, February 28, 2010

The Admire

Tidak ada alasan khusus, mengapa aku bisa sangat menyukai kopi.  Sebagian orang menyukainya karena mereka menganggap minuman ini bisa membuat mata mereka lebih fit dalam beraktivitas.  Ada juga yang berkata bahwa kopi bagus untuk pertumbuhan otak manusia.

Benarkah semua itu?  Satu-satunya kenyataan yang kutahu tentang kopi hanyalah minuman kental itu dapat membuatku bertahan, bergadang semalam menyelesaikan semua pekerjaan yang kubawa pulang ke rumah.

Ada satu hal yang sangat pasti tentang kopi bagiku.   Aku menyukainya karena aromanya.  Lembut, menusuk, tapi  selalu dapat merangsang otak kanan dan kiriku serta menyegarkan hati dan pikiran.  Tapi.  Biarpun aku sangat sangat menyukai kopi.  Aku termasuk pemilih dalam mengkomsumsinya.

Aku tidak terlalu suka kopi pekat nan hitam.  Akan terasa lebih pas jika dicampur sedikit creamer dan satu sendok gula.  Aku juga tidak terlalu suka kopi yang dicampur dengan susu.  Seakan kopi itu kehilangan wajah aslinya.  Bukan berarti aku tidak pernah meminum kopi yang pekat nan hitam dan yang dicampur susu.  Hanya saja jarang, sangat jarang.

Dari sekian banyak coffee shop di kota ini.  Hanya ada satu café yang membuatku betah dan tidak berpindah ke lain cafe.

“Cofe”, kepanjangan dari Coffee Café.

Dari namanya saja, sudah bisa ditebak bahwa café ini berhubungan dengan segala jenis kopi.  Memang sedikit terdengar seperti surganya para penggila kopi, seperti diriku ini.  Suasana kopi-kopian di café itu sangatlah terasa.  Dari aroma ruangan, cat dinding, perabot hingga desain, semuanya berhubungan dengan kopi.

Belum lagi hiasan-hiasan kecil dan gantungan kecil di depan pintu, semuanya menggunakan biji kopi.  Orang yang merumuskan ide ini pastilah sangat kreatif.  Karena biji kopi selain dijadikan hiasan dan gantukan, juga bisa digunakan sebagai pengharum ruangan.

Kadang, ada kalanya aku ingin bertemu dengan pemilik café ini.  Berkenalan dengannya dan bercerita tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kopi.  Kami bisa menjalin tali perteman atau berbagi tips tentang kopi.  Mungkin.

Namun, setiap kali aku menyatakan keinginanku untuk bertemu sang pemilik café, jawaban yang kudapat hanyalah dia sedang tidak ada di tempat atau dia belum datang.

“Pagi sekali hari ini.” sapa salah seorang pelayan yang kukenal, bernama Maria.

Maria sudah bekerja disana sejak café itu dibuka.  Dialah orang yang selalu mencatat pesananku.  Hingga, aku merasa, dia sudah hafal benar dengan pesananku.  Hanya saja demi ke-etisan profesinya, dia selalu menanyakan pesananku terlebih dahulu sebelum memesankannya ke dapur untukku.

“Iya.  Hari ini aku bangun cukup pagi.  Jadi, sekalian saja mampir pagian kesini dan mengisi perut sebelum berangkat ke kantor.”

Dia menganggukkan kepalanya.  Lalu kami berbicara untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia beranjak ke dapur dan membawakan pesananku.

“Secangkir kopi untukmu dan sepiring roti bakar.” Maria meletakkan secangkir kopi panas itu dengan sangat hati-hati.

“Apakah kopi ini…….?” Aku menggantungkan kalimatku

“Ya.  Seperti biasa, dari pengagum rahasiamu.”

Aku menghela nafas, tapi ada disertai sebuah tawaan.  Akan berlangsung sampai kapankah hadiah kopi dari pengagum rahasia?

Semuanya dimulai sejak minggu kedua, aku menginjakkan kaki ke dalam café ini.  Saat itu, aku mulai mendapatkan rasa betahku pada café itu.  Pada minggu pertama aku hanya kesana dua kali.  Namun, pada minggu kedua, aku menambah intensitas kunjunganku menjadi empat kali.

Aku cukup terkejut, saat sang pelayan-Maria, membawakan segelas kopi untukku, sebelum aku sempat memesan.  Awalnya kukira Maria sudah menghafal pesananku, karna rasanya yang pas.  Sedikit creamer dan satu sendok gula.

Tapi, semua terkaanku ternyata salah besar.  Aku mengetahui kebenarannya, saat hendak membayar di kasir, penjaga kasir mengatakan padaku bahwa secangkir kopi itu hadiah untukku dari seseorang.

Aku berpikir. Pastilah orang yang menghadiahkan kopi ini memiliki indra pengecap yang sama denganku.  Atau, jangan-jangan.  Dia seorang psycho yang selama ini mengikutiku dan mengawasi setiap gerak gerikku.

Awalnya, aku merasa cukup aneh sekaligus takut akan tawaran kopi gratis tersebut.  Bisa jadi, ada orang yang membenciku dan menghadiahkan kopi racun padaku.  Tapi, semua kecurigaan itu menghilang tergantikan oleh kebiasaan baru.  Secara tidak sadar, aku selalu menunggu secangkir kopi itu setiap harinya.

“Apa kamu tidak ingin tahu siapa yang menjadi pengagum rahasiamu?” Maria kembali bertanya, seusai melayani pengunjung lainnya.

“Apa kau tahu siapa orangnya?”

Maria menggeleng pelan, “Yang mengetahui hal ini hanya Manager kami, tapi dia tidak pernah mau memberitahukannya ketika aku bertanya.”

Aku meletakkan kembali cangkir kopi itu ke tempatnya.  Lalu mendongakkan kepalaku menghadap Maria, “Tidak apa-apa.  Jika orang ini memang ingin bertemu denganku, pastilah dia akan menemuiku.  Mungkin belum waktunya bagi kami untuk bertemu.”

Maria kembali menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.  Entah karena dia setuju dengan pendapatku, atau dia hanya ingin menyenangiku.

“Aku harus pergi sekarang.” Aku meyerahkan selembar lima puluh ribuan ketangan Maria, “Sisanya sebagai tips menemaniku ngobrol.”

Kugantungkan tas channel bewarna hitam yang baru kubeli minggu lalu ke samping bahuku.  Berdiri dengan perlahan dan melangkahkan kaki keluar dari café tersebut.  Jam tangan yang berada di tangan kananku menunjukkan bahwa jika aku tidak sampai kantor dalam waktu 15 menit, maka aku akan terkena denda.

Seharusnya, aku tidak berbicara panjang lebar dengan Maria.  Seharusnya aku melahap sarapanku lebih cepat.  Karena sibuk menyalahkan diri sendiri, aku tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang berada di depanku.  Dengan kecepatan berjalanku yang setengah berlari, rasanya tidak mungkin untuk tidak menyenggol orang tersebut.

Dugaanku kali ini tepat.  Orang itu terdorong ke belakang.  Begitu juga denganku.

“Maafkan aku.” Aku membungkukkan badanku berkali-kali.

“Tidak apa-apa.” Dia membalas, kemudian melanjutkan langkahnya

Aku mengerutkan keningku.  Sepertinya aku pernah bertemu dengan orang itu.  Tapi, yang tidak dapat kuingat, kapan dan dimana.

Saturday, February 27, 2010

Arti Cinta


Kami.
Aku dan dia.
Dua orang yang sangat berbeda
dalam memandang arti cinta.
Pernah sekali, aku bertanya.
"Apa arti cinta bagimu?"
Dia menjawab, "Cinta sesuatu yang abstrak. Selama aku ingin memilikinya dan selalu bersamanya, maka kuanggap itu cinta."
Dia tersenyum.
Dan, aku menatap langit.
Lalu, dia kembali mengulang pertanyaan yang sama padaku.
"Menurutmu sendiri, apa itu cinta?"
Aku menatap lekat-lekat ke dalam bola matanya dan menjawab,
"Saat aku melihatnya bahagia dan aku juga ikut bahagia, maka itulah cinta."
Mungkin inilah salah satu alasan,
aku dan dia, tidak bisa bersama.
Karena kami berada di dua titik yang berbeda.
Dimana kedua titik itu semakin didekatkan,
maka akan semakin menjauh.

Friday, February 26, 2010

Pengharapan

Hari yang berlalu terasa begitu cepat.  Kadang aku merasa seakan aku sedang berlomba marathon.  Dan lawanku adalah waktu.  


Dia berlari terlalu cepat.  Sekuat apapun aku mengejarnya, tidak ada celah sedikitpun untuk menggapainya.  Bukannnya aku tidak berusaha.  


Tapi, pada akhirnya dia selalu menjadi pemenangnya.  Dan aku hanya bisa melihatnya berlalu.


Hari berganti hari.  Musim berganti musim.  Bahkan tahun pun telah berganti.  Hanya aku seorang disini yagn tidak berganti.  


Kadang aku juga merasa bahwa setiap orang berubah.  Bergerak mengikuti waktu.  


Hanya menyisahkan aku seorang diri.  Tersesat.  Terhalang.  Tidak dapat berjalan maju.  Juga tidak ada jalan untuk berjalan mundur ke belakang.


Dan penyebabnya adalah kau.  Jika kau mendengar jawaban ini, mungkin kau akan menertawakanku.  Karna telah membuat keputusan paling bodoh seumur hidupku.  Yaitu memutuskan hubungan denganmu tanpa alasan yang jelas.


Awalnya aku merasa bahwa hanya dengan melihatmu bahagia.  Aku akan merasa bahagia juga.  Bukankah jika mencintai seseorang seharusnya begitu?  


Ternyata aku salah.  Hanya orang munafik yang akan berkata 
begitu.  Dan aku termasuk di dalamnya.


Saat melihatmu mulai membangun hidupmu kembali.  Berusaha untuk bangkit dari kesedihanmu.  Perlahan menemukan kembali kebahagianmu.  Apalagi saat melihatmu bersama seseorang jauh disana.  


Pada saat itulah aku menyesal. 


Orang itu seharusnya aku.   Menemanimu kemanapun kau pergi.  Mendengarkan keluh kesalmu yang cukup membosankan.   Menunggumu untuk memelukku dengan erat.  Menggenggam tanganmu dengan erat di keramaian.


Kenapa aku harus melepaskanmu padahal aku sangat mencintaimu.  Kenapa aku berpikir bahwa perpisahan adalah keputusan yang tepat?  Bodohnya aku.  Benar-benar sangat bodoh.


Kini, harus kuakui bahwa aku menyesal.  Melihatmu bahagia tidak membuatku bahagia juga.  Melihatmu bahagia hanya membuatku semakin merasa sedih dan menyesal.  Melihatmu bahagia hanya membuatku tidak dapat berjalan ke depan dan tidak mungkin untuk berjalan mundur ke belakang.


Kini, tanpa sengaja kita bertemu disini.  Tempat pertama kali kita bertemu.  Kebetulan yang sangat tidak terduga.  Kebetulan yang terlalu kebetulan.


Saat aku menatap ke dalam kedua bola matamu yang selalu menghanyutkanku.  Aku baru menyadari bahwa aku sangat merindukanmu.  Aku ingin memelukmu dan memintamu untuk kembali kepadaku.  Tapi aku tahu semuanya tidak mungkin.


Karna tangan yang kau gandeng sekarang bukanlah tanganmu, melainkan tangannya.  Ada saat dimana aku ingin bertanya padamu,


[i]Apakah kadang kau memikirkanku? [/i]
[i]Apakah kau menghabiskan waktu seperti saat aku denganku? [/i]
[i]Apakah kau mencintainya seperti kau mencintaiku?[/i]
[i]Apakah kau merasa sedih saat kau tidak bersamaku?[/i]


Dan aku sangat mengharapkan bahwa kau akan menjawab bahwa kau sangat tidak bahagia.  Dan mungkin kau akan berpaling kembali kepadaku.


Namun, kenyataan yang terpampang di hadapanku tidaklah begini.  


“Bagaimana kabarmu.” Kau bertanya padaku dengan nada lembut dan penuh perhatian seperti dulu.


Aku hanya tersenyum.  Terlalu takut jika aku menjawab maka aku tidak akan bisa menahan air mata ini.


“Apakah kau melewati hidupmu dengan baik?” kau kembali bertanya.  Bisa kurasakan bahwa kau sangat mengharapkan sebuah jawaban keluar dari mulut mungilku.


Aku menganggukkan kepala dengan cepat, supaya kau tidak melihat bahwa aku telah menjatuhkan dua tetes air mata ke bawah.


“Apa kau bahagia?”


Kumohon!  Jangan bertanya lagi.  Cepatlah berlalu dari hadapanku.  


Aku sudah tidak dapat menahan bendungan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.  Jangan biarkan aku menangis di hadapanmu.  Aku tidak ingin kau melihat sisi lemahku.  Tidak untuk sekarang.


Kau mulai berjalan mendekat, sementara salah satu tanganmu melepaskan gengaman tangannya.  Gerak-gerikmu menunjukkan bahwa kau ingin menggapaiku yang berdiri tidak terlalu jauh dari hadapanmu.


Aku merasa sedikit senang.  Setidaknya aku tahu bahwa kau masih mengkhawatirkanku.  Di hatimu masih tersisa tempat untuku.  Walaupun tidak seluas dulu.


Kau berdiri tepat di hadapanku.  Sebelah tanganmu mulai menangkup wajahku yang pucat.  Kau menatapku dengan tatapan yang seakan berbicara bahwa,[i] “Aku mengkhawatirkanmu.  Kemana kau selama ini?  Apakah kau baik-baik saja?”[/i]


Aku sudah tidak dapat menahan airmata ini.  Dan semuanya aku tumpahkan dengan memeluk erat dirimu.  Aku tidak ingin melepaskan pelukan ini.  Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi.  Tapi apakah itu mungkin?


“Dre” dia, yang bersamamu, memanggilmu dengan nada cemas.


Kau bahkan tidak menolehkan kepalamu dan tetap membiarkanku memeluk erat dirimu.


“Dre” dia kembali memanggilmu dan mulai berjalan kearah kita.


Kurasa sudah saatnya aku pergi.  Aku sudah cukup puas dengan apa yang kualami hari ini.  Aku sudah cukup bahagia mengetahui bahwa masih ada cinta yang tersisa untukku.  Semuanya sudah cukup.  Kurasa kini saatnya bagiku untuk benar-benar melepaskanmu.


Kulepaskan pelukanku segera berlalu dari hadapanmu.  Kau ingin mengejarku tapi dia menahanmu.


“Apa yang sedang kau lakukan?” dia membalikkan badanmu dan bertanya dengan nada cemas.  Tidak ada sedikit nada marah pun dalam perkataannya.


Kau tidak menjawab dan kembali membalikkan badanmu.  Sayangnya, aku sudah tidak ada disana.




***




Pada waktu yang sama.  Di sebuah rumah sakit.  Para suster sibuk memanggil dokter yang bertugas menangani pasien kamar VIP 2.  Pasien tersebut sudah mengalami koma selama tiga bulan sejak melakukan operasi tumor di otaknya.


“Dok, jantung pasien berhenti berdetak.” Dengan panik salah seorang suster berteriak.


“Siapkan peralatan.” Perintah sang dokter.


Dengan sigap dokter itu meletakkan alat pacu jantung di bagian dada sang pasien. Beberapa kali jantung pasien itu dikejutkan supaya kembali berdetak.  


Namun, hasilnya sia-sia.


Sebelum para suster menutup wajah pasien dengan selimutnya.  Mereka melihat bahwa wajah pasien itu terlihat seakan sedang tersenyum, padahal di kedua belah matanya meneteskan air mata.


Sepertinya pasien tersebut pergi dengan bahagia, tanpa penyesalan.



Monday, February 22, 2010

Jarak

Jarak terjauh diantara aku dan kamu,
bukan dipisahkan oleh hidup dan mati.
bukan juga dipisahkan oleh gunung dan laut.
Jarak itu hadir,
saat aku berada di hadapanmu,
dan kamu tidak menyadari bahwa aku telah jatuh cinta padamu.